DUO J & N : TUGAS MUSISI BUKAN BERPIKIR LAKU ATAU TIDAK !

Ditemui saat merampungkan shotting dua video klip mereka yakni ‘Entah Kau Dimana’ dan ‘Jangan Jangan’,  J & N membagi kisah tentang perjalanan mereka sebagai sebuah duo yang berjuang lewat lini gerilya kepada redaksi Pagerzine.


Simak interview berikut ini :

Pagerzine :
Unik sekali nama duo kalian. J & N. Apa arti atau  maksudnya ?

J & N  ( Ribut )
Nama ‘J & N’ diambil dari daerah asal mereka masing-masing yakni ‘Jawa dan Nias’. Dimana personilnya ada Ribut yang berasal dari Jawa dan Yanus yang berasal dari Nias.

Pagerzine :
Hahaha… rupanya ada kaitannya dengan Ras ? Apa tidak eksklusif jadinya ?

J & N  ( Yanus )
Wah, kayaknya tidak banget. Justru J & N membawa misi perdamaian dan persatuan atas segala perbedaan yang diciptakan Tuhan di muka bumi. Bahwa perbedaan itu adalah keindahan yang harus disikapi dengan bijaksana. Dalam perbedaan kita dituntut untuk saling mengisi, saling melengkapi sebagai manusia yang bernilai sama di mata Tuhan.

Pagerzine :
Hem, rupanya dalam sekali makna J & N . Bisa sedikit cerita latar belakang berdirinya ?

Ribut
‘J & N’ lahir pada tanggal 6 Desember 2010. Awal berdirinya ‘J & N’ bermula dari  pertemuan di kampus yang sama, kebetulan letak gedung kami bersebelahan dimana saya mengambil jurusan Teologi dan Yanus pada jurusan Tehnik Sipil. Awalnya saya tertarik dengan kebiasaan Yanus yang suka bernyanyi iseng-iseng dalam kesehariannya di kampus. Sayapun lantas memberanikan diri mengajak dirinya membuat sebuah proyek duo vocal dengan pertimbangan konsep duo lebih simple dalam banyak hal.

Yanus
Ya, mulanya saya menolak karena memang merasa tak punya keinginan untuk menceburkan diri ke musik secara serius. Tapi Ribut berusaha memberi dorongan pada saya untuk berani mencoba

Pagerzine :
Dengar-dengar dua lagu yang sedang digarap video klipnya ini adalah proyek kedua ?


Ribut :
Ya, benar, keduanya masuk dalam mini album “Menggapai Cahaya “ 2011. Sebelumnya di tahun 2010 J&N sudah pernah melahirkan mini album rohani “ Tuhan Itu Baik “

Pagerzine :
Lho, jadi mini album pertama justru Rohani ? Bukankah biasanya merilis lagu-lagu umum dulu baru liris lagu rohani ? Apa gak kebalik ?

Yanus
J & N merilis lagu rohani dulu karena sepertinya  menyanyi dan membawakan lagu rohani sendiri untuk kepentingan pelayanan gereja sudah biasa kami lakukan. Jadi pilihan tersebut anggap saja merupakan pemanasan agar kami tidak canggung-canggung banget membawakan lagu sendiri yang bertema cinta.(tertawa).

Pagerzine :
Apa kendala kalian di mini album kedua ?

Ribut :
Kalo masalah dana mungkin sepertinya semua musisi indie atau gerilya sudah biasa mengalaminya. Jadi yang ini tak perlu kita bahas. Kendala terbesar adalah masalah jarak. Saat proses “Menggapai Cahaya “ kebetuan saya sudah bekerja di Jakarta, sementara Yanus masih kuliah di Yogya. Otomatis segala perencanaan terkait karya kedua kami ini banyak boros di transportasi latihan. Kadang saya yang ke Yogya, atau kadang Yanus yang ke Jakarta. Untungnya semua materi lagu sudah diciptakan Maret 2009 lalu dan tidak mengalami perubahan yang signifikan sehingga pada proses perekaman tidak butuh waktu terlalu lama.

Pagerzine :
Ditengah persaingan industri musik yang semakin ketat. Apa yang membuat kalian yakin dengan proyek duo ‘J & N’ ini ?

Ribut :
Mengenai pertanyaan tersebut, terserah mungkin kalian akan anggap saya ini Lebay atau apalah namanya. Blak-blakan saja, selama ini saya sangat terinspirasi semangat Agnes. Kalau kita mempunyai mimpi, kejarlah mimpi tersebut walaupun itu membutuhkan waktu lama. Tidak ada yang tidak mungkin jika niat kita kuat.

Yanus :
Tujuan lahirnya duo J & N ini adalah ruang ekspresi bagi kami berdua. Kalau akhirnya karya kami diterima banyak orang tentu itu merupakan kebahagian tersendiri bagi kami. jadi  Tugas musisi adalah berkarya sebaik-baiknya, bukan berpikir laku atau tidak lagunya.

Pagerzine :
Apa yang ingin anda bagi untuk kawan-kawan seperjuangan lainnya ?

Ribut : 
Bahwa dengan segala keterbatasan yang ada, janganlah itu justru menjadi batas yang memenjarakan kreatifitas kita. Semakin kita diuji, semakin kita tahu seberapa besar kita memiliki mimpi tersebut