SAMBUNGAN DARI SINI
Dua episode sebelumnya sudah membahas jumpalitannya KORN di awal-awal berdirinya, plus ambil beberapa pelajaran yang (menurut saya) patut di jadikan tips-tips "bekerja di musik".Sekarang kita ngobrol lanjutannya. Maklum, blog ini kemaren-kemaren terlalu banyak nulis masalah social politik mulu.
Asal kata KORN adalah dari CORN, sebuah alat bantu sex bagi golongan gay. Tapi ini bukan berarti personil KORN termasuk kelompok "ih, jijay deh boo" itu. Gini ceritanya : Suatu kali Jon menceritakan perilaku teman-teman di kotanya yang gay dan selalu menjadikan corn sebagai kebutuhan pemuas libido. Kontan personil lainnya ngakak terjungkal-jungkal. Intinya, tiap saat mereka menyebut kata corn pasti mereka langsung tertawa. Saking seringnya bercanda dengan kata ini, mereka jadi kualat. Kata Corn yang disempurnakan menjadi KORN akhirnya di ketok palu sebagai nama band baru mereka.
Percaya atau tidak, nama adalah suatu hal yang tidak bisa dianggap remeh (walau ada yang bilang " apalah arti sebuah nama"). Sebagian orang menyebut : disitulah letak hoky kita. Sebagian lain mengatakan : nama adalah penampakan awal dari karakter. Tapi buat saya, nama adalah modal promo paling pertama. Sedapat mungkin kita harus punya nama yang mudah diingat orang hanya dalam sekali sebut. Boleh saja kemudian nama itu punya arti, punya makna, punya filosofi dan sebagainya. Tapi kompetisi dalam dunia persilatan musik sepertinya tak terlalu membahas arti nama itu sedalam-dalamnya. Semua orang tahu bahwa yang paling penting dari sebuah proyek band adalah karyanya seperti apa.
Untuk masalah ini, banyak sekali kita mengenal nama-nama band aneh di Indonesia. Tujuannya ya itu tadi, supaya mudah di ingat. Tengok saja nama-nama seperti EVERY BODY LOVE IRENE, JENASAH, atau yang paling saya ingat sejak saya masih belajar merokok pertama kali hinga kini adalah nama band…..…ULAR TEGANG BERBULU ! Entah , band yang terakhir ini masih ada atau tidak. Nama tersebut saya baca dari sebuah pamflet event underground di kota asal saya, Yogya.
Strategi promo KORN kali ini terbilang beda dan unik. Sekarang mereka memilih menggelar performance sendiri. Modalnya adalah sebuah trailer kecil berisi peralatan. Mereka keliling-keliling nyaris kayak orang ilang. KORN juga menambah pasukan dengan mencomot beberapa fans di kampung untuk dijadikan panitia. Nyebar-nyebar iklan pertunjukan sendiri, ngeset dan gotong-gotong alat sendiripun mereka lakukan. Supaya agak meriah, KORN menawari beberapa band-band sejawatannya untuk manggung di gigs kecil-kecilan mereka.
Usaha ngider ini berlangsung tiga tahunan cing ! Gak ada kamus capek buat mereka. Ini betul-betul yang namanya proses ! Sekarang bandingin sama kita-kita yang sering cuma menumpuk segudang keluhan, males berusaha, sok gengsi dan celakanya belum-belum dah ngerasa seperti selebritis. Padahal kalo kembali ke pelajaran yang kita peroleh dari KORN episode pertama yakni "konsisten untuk eksis itu penting", maka yang paling utama adalah eksistensi itu sendiri. Gak tau gimana caranya ! Buang segudang keluhan, kemalasan dan ke-gengsi-an. Selalu tempatkan usaha untuk eksis sebagai prioritas pertama.
Maestro teater WS Rendra pernah mengatakan "gagah dalam kemiskinan". Secara gampang saya memaknainya demikian : " gak perlu kita takut kelihatan miskin dengan apa yang kita lakukan ". Contohnya ya itu tadi, KORN gotong-gotong dan ngeset alat sendiri walaupun dia jugalah nanti yang jadi artisnya. Aksi-aksi seperti ini sesungguhnya justru sering menimbulkan rasa simpatik pada public. Dan ini terbukti kemudian. Skenario jemput bola KORN ternyata mendapat sambutan positif dari masyarakat. Apalagi para personil KORN sudah insaf dari tabiat ancur-acuran back stage-nya. (Ya iyalah, kali ini semua peralatan kan milik mereka sendiri). Mereka juga tampil simpatik dan ramah dengan para fans.
Syahdan, mereka terkenal bukan hanya karena ke-musisi-annya, tapi juga karena kerapiannya dalam mengorganizer konser. Musisi sekaligus EO ! Kelak di tahun 1998, mereka berhasil menggagas konser tur bertajuk Family Values Tour (FVT) yang sukses karena kemasannya yang unik. Mereka menggabung kan dua kubu yang sering mengalami bentrokan, yakni Metal dan Hip Hop. Disini mereka mengajak Ice Cube, Limp Bizkit, Orgy, dan Rammstein sebagai pengisi acara. Belum lagi kenekadannya untuk banting harga. Tiket konser termurah yang biasanya Rp 750 an ribu sampai Rp 850 ribu dibanting menjadi Rp 30 ribuan doang. Padahal itu untuk event berdurasi 6 sampai 7 jam ! Mereka juga tidak mengurangi nilai artistic konser dengan tetap menggunakan sound dan atraksi laser yang yahud.
Hal-hal macam inilah yang makin membuat pasar mereka luas. Dalam otak saya, pasar itu adalah fans. Jadi menurut saya, salah kaprah jika ada band baru yang bilang " kita sih mau bikin musik yang ngikutin pasar aja…" . Gubrak ! Emang sudah berapa banyak fans yang mereka miliki ? Banyak juga yang bilang pasar itu identik dengan eksekutif produser sebuah label. Itu juga sepertinya juga tidak tepat ! Tidak ada siapapun yang bisa menjamin musik kita laku di pasaran (termasuk si pak produser itu) kecuali band itu sendiri. Terletak pada kemampuan band itu menggalang fans, sebab disanalah mereka mencipta pasar. Untuk itu saya angkat topi terhadap beberapa band dan manager yang cukup jeli tentang hal ini.
BERSAMBUNG KE EPISODE SELANJUTNYA :
KORN YANG MENGURUS ALBUMNYA SENDIRI







