Menurut sebuah buku yang menulis bahasan tentang ajaran Hindu berjudul " kesedihan adalah akar dari kebahagiaan ", kesengsaraan adalah pupuk mujarab di setiap perjuangan kita. Kesimpulannya adalah : tak perlu kita meratapi dan mengeluh-eluh tentang berbagai rintangan yang menghadang, sebab yang terpenting adalah mencari dan lantas menjalani opsi-opsi jalan keluarnya. Semakin kita tabah menjalani kesengsaraan, semakin kita di pupuk habis-habisan untuk menghasilkan buah yang luar biasa. Disamping itu, almarhum mantan Pemimpin Besar Revolusi Indonesia, Ir. Soekarno pernah meneriakkan : JAS MERAH ! JAngan Sekali-kali MElupakan sejaRAH. Artinya : dengan belajar dari sejarah, kita akan mampu menemukan tips-tips to the point untuk bisa segera naik kelas.
Kali ini kita belajar dari KORN. Yang ngaku anak rock generasi millenium tapi gak kenal sama embahnya NU-METAL ini pasti kelamaan tinggal di hutan.

PROYEK MUSIK DARI TANAH PINGGIRAN
"Proyek musik" yang awalnya di mulai dari Bakersfield, California, Amerika Serikat dengan nama LAPD "Love And Peace Dude" (bukan LOS ANGELES POLICE DEPARTMENT loh) ini nampaknya lahir dari kota pinggiran. Buktinya, catatan menunjukkan di tahun 2008 jumlah penduduknya cuma 328.692 jiwa. Coba bandingkan dengan kotanya karib saya si Urbanoir di Jombang, Jawa Timur yang penduduknya 1.165.720 jiwa (2005). Fakta ini menunjukkan bahwa, gugur sudah keluhan sejumlah band yang menganggap band-band ngetop itu harus berasal dari kota besar. Apalagi sekarang jaman internet. So, alasan tersebut menjadi tidak berarti lagi dan bukan sebuah halangan besar untuk maju menggebuk !
Awal-awalnya (1989) James Shaffer-Munky (Nge-gitar), Reggie Arvizu -Fieldy (Nge-bass), David Silveria (Nge-drum) bersama Richard Morral (vocalis asal kota Orange County) membawakan aliran funky alternative gaya Red Hot Chili Peppers-an. (Kalo kita amati, mainan bass si Feldy memang kental banget sama aroma ini sampe sekarang). LAPD memperbanyak jam eksis di komunitas-komunitas dan area hiburan local. Bahkan menjajah Orange County daerah asal Richard yang terkenal sebagai lokalisasi para rocker. Pelajaran yang bisa kita petik disini adalah "konsisten untuk eksis" itu perlu. Ini adalah satu strategi promosi ketika kita ternyata lahir sebagai band kere, bermodal dengkul dan nekad. Bodo amat mau dibayar ato enggak, yang penting setor muka di mana-mana. Pengalaman membuktikan, semakin sering kita manggung, semakin sering kita di undang perform di berbagai kesempatan. Ujung-ujungnya, akan terbuka peluang tawaran recording atau produksi dari pihak-pihak yang ingin invest di proyek musik kita.
Dan LAPD mengalaminya ! Sebuah indie label bernama Triple X Records milik Dean Nateway mengajak mereka untuk produksi bareng. Meski lumayan jalan di lokalan amrik dan eropa, LAPD hanya merilis satu album berjudul 'Who Laughing Now? (1991)". Itu karena Dean mana tahan dengan ulah para personil yang doyan banget rusak-rusakan di back stage. Alasan mereka konyol banget : Biar cepet terkenal ! (Nah, buat band-band indo yang ingin mencontoh hal ini silahkan saja. Sekali-kali nyobain nginep di sel tahanan, plus bonus cocolan sepatu lars kalo mister polisi lagi pengen iseng malem-malem)
Perilaku ancur ini membuat Dean terpaksa membayar tuntutan pihak-pihak event organizer yang perangkatnya di jebol-jebol personil LAPD. Dean bukannya seneng ketika skedul tur keliling benua Eropa di depan mata, tapi malah stress mikirin tuntutan macam apalagi yang bakal di hadapinya dalam tur-tur itu. Ketika Dean mencoba membahasnya bersama para personil LAPD, tiga personil non Richard malah menyatakan hal itu sah dan biasa terjadi dalam dunia persilatan. Dean makin serasa kiamat dan ambil sikap tegas memutus kontrak dengan LAPD, sementara Richard memilih cabut, ngamen di café-café lagi kayak sebelum-sebelumnya.
Manusiawi sajalah, tragedi pemutusan kontrak dan keluarnya sang vokalis membuat LAPD babak belur spiritnya. Saya dan anda-anda pasti pernah mengalami situasi kehilangan personil seperti ini. Hampa cuy ! Kayak ada yang timpang. Tapi hidup kan harus terus berjalan. Proyek musik bernama LAPD harus terus berjalan. Dodolnya, mereka ternyata malah nyari tambahan gitaris duluan, bukannya vokalis. Brian Welch, gitaris satu kampung di Bakersfield di ajak gabung untuk membuat komposisi sahut-sahutan dua gitar dengan si Munky. Nama LAPD pun berubah jadi CREEP. Entah apa alasannya memakai nama ini, tapi yang jelas, suatu ketika, saat sudah bernama KORN, mereka pernah membawakan lagu CREEP milik RadioHead secara acoustic di sebuah event. Mungkin untuk mengenang episode bersejarah ketika Jonathan Davis, vokalis terbaru mereka bergabung untuk pertama kalinya.
BERSAMBUNG KE :
BELAJAR DARI JUNGKIR BALIKNYA KORN ( BAGIAN 2 ) : JONATHAN DAVIS SEBAGAI NYAWA BONUS






